Monday, June 13, 2005

Perubahan Struktur Sosial sebagai Konsekuensi Difusi Inovasi Teknologi Pertanian Terpadu di Lahan Kering

Oleh Andini Fajryah Nuroni

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.1.1 Revolusi Hijau dan Dampaknya bagi Struktur Petani
Perubahan sosial dan difusi teknologi pertanian adalah tema penelitian ini. Rencana penelitian ini bermaksud memaparkan difusi inovasi teknologi pertanian, khususnya teknologi pertanian terpadu di lahan kering. Pentingnya penelitian ini adalah (1) menjawab hubungan antara stratifikasi dan penguasaan alat produksi pertanian di lahan kering, (2) menyajikan struktur sosial petani di masyarakat (Tjondronegoro, 1999) serta (3) mengetahui sebaran kekuatan dan kepentingan dalam masyarakat (Tjondronegoro, 1999).

Penyebaran teknologi pertanian sudah dimulai sejak revolusi hijau masuk ke Indonesia. Revolusi hijau adalah program intensifikasi tanaman pangan dengan teknologi baru dalam teknik pertanian. Teknologi baru yang dimaksud adalah benih-benih unggulan, pupuk kimia, dan teknik-teknik agoronomi yang modern. Intensifikasi pertanian telah dicoba pada tahun 1937 dan mulai dikenal dengan istilah revolusi hijau pada tahun 1900-an. Selain tanaman pangan seperti padi-padian, revolusi hijau juga diterapkan pada tanaman lain (Tjondronegoro, 1999).

Manfaat yang diperoleh dari revolusi hijau hanya diterima oleh petani yang berada pada lapisan atas. Petani yang berada pada lapisan bawah tidak bisa meningkatkan kesejahteraan mereka layaknya petani lapisan atas. Petani kaya memiliki sumberdaya yang tidak dimiliki oleh petani lapisan bawah, diantaranya (1) lahan yang luas, subur dan beririgasi, (2) akses untuk peminjaman kredit dengan sertifikat tanah sebagai pinjaman dan (3) jaringan komunikasi yang luas dengan orang-orang penting sehingga mereka lebih mudah mengakses kredit (Tjondronegoro, 1999).

Teknologi pertanian berpengaruh pada lapisan masyarakat desa. Masyarakat desa yang kaya bertambah kaya dan berkuasa atas sumberdaya. Dampak dari revolusi hijau adalah potensi ekonomi bagi masyarakat desa meningkat, ekonomi uang memasuki masyarakat desa, hubungan-hubungan sosial antara patron klien berubah menjadi hubungan yang didasarkan pada kepentingan ekonomi, struktur sosial masyarakat petani berubah. Petani yang memiliki lahan luas semakin sedikit kuantitasnya tetapi jumlah penguasaan lahan pertanian menjadi semakin luas. Sementara petani miskin yang memiliki lahan sempit semakin banyak kuantitasnya tetapi luas lahan yang mereka kuasai semakin menyempit (lihat gambar 1 dan gambar 2) (Tjondronegoro, 1999).

Dari data sensus pertanian yang terdapat pada tahun 1973 dan tahun 1983 tampak bahwa petani lapisan atas semakin berkurang jumlahnya dari 36,4 persen menjadi 16,4 persen. Sementara petani lapisan bawah semakin banyak jumlahnya dari 21,2 persen menjadi 36,2 persen. Hal ini terjadi karena pada tahun 1973 belum terdapat intervensi dari luar berupa teknologi baru dibidang pertanian sedangkan pada tahun 1983 pertanian Indonesia sudah mendapat intervensi dari luar berupa revolusi hijau. Dari gambar 1 dan 2 terlihat bahwa teknologi telah mengubah struktur masyarakat petani menjadi melarat, yaitu berkurangnya penguasaan petani terhadap lahan pertanian.

Solahuddin (1999) memproyeksikan bahwa pada abad 21 lahan untuk pertanian akan berkurang. Pengurangan luas lahan pertanian disebabkan oleh konversi lahan pertanian menjadi pemukiman atau industri. Masalah lainnya adalah pasar produk pertanian. Tantangan bagi pertanian di Jawa adalah memperbesar produktivitas seiring menyempitnya lahan, meningkatkan daya saing produksi seiring derasnya laju arus impor dan kuatnya tuntutan untuk promosi ekspor, membangun citra pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Tantangan ini dapat diselesaikan dengan dukungan pertanian modern, yaitu dukungan IPTEK yang dilandasi budaya kerja industrial. Istilah ini disebut pertanian industrial. Pertanian berbudaya industrial adalah pengelolaan kegiatan pertanian secara industri. Sikap dan budaya masyarakat pertanian disamakan dengan masyarakat industri, yaitu sikap dan budaya rasional. Sikap rasional ini merupakan landasan utama bagi proses difusi-inovasi IPTEK ( Solahuddin ,1999) Bila dihubungkan dengan teori Weber tentang tindakan sosial, maka sikap dan budaya rasional merupakan tipe tindakan rasional instrumental. Suatu tindakan yang mengutamakan efisiensi dan efektivitas dalam mencapai tujuan.

Saya kurang setuju dengan apa yang dikemukakan oleh Solahuddin. Usaha untuk memperbesar produktivitas produk pertanian dengan semakin menyempitnya lahan pertanian memang diperlukan dukungan IPTEK. Namun, usaha untuk merubah cara bertani yang semula tradisional menjadi modern bukanlah suatu pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Ada beberapa penghambat mengapa sulit merubah cara bertani tradisional menjadi modern.

Pertama, petani Indonesia digolongkan sebagai petani gurem. Separuhnya berpendidikan sekolah dasar dan kurang dari satu persen yang mengeyam pendidikan tinggi. Sementara yang pernah mengenyam pendidikan SLTA kurang dari lima persen dan sisanya tidak pernah sekolah. Petani gurem hanya bertani untuk menghidupi keluarga sendiri dan bukan untuk dikomersilkan. Adanya inovasi baru dibidang pertanian membuat petani Indonesia bersikap hati-hati. Sikap hati-hati ini dilakukan karena ia takut gagal. Bila ia gagal maka keluarganya tidak bisa makan (Soetrisno, 1999).

Kedua, keadaan iklim Indonesia yang tropis memperkuat alasan petani untuk tidak mencoba teknologi baru karena negara yang beriklim tropis memiliki banyak hama. Ia tidak ingin usahatani yang dilakukan gagal karena diserang hama (Soetrisno, 1999).
Ketiga, petani lapisan bawah tidak pernah bertanya. Mereka mengadopsi inovasi baru dengan cara meniru secara diam-diam dengan hasil yang jauh dari sempurna (Soewardi, 1978).

Keempat, tipe pemikiman desa di Indonesia cenderung terpecah-pecah (fragmentaristik). Pemukiman penduduk saling berdekatan dengan lahan pertanian berada di luar pemukiman

Adanya pemukiman dengan tipe ini membuat penerpaan sistem dan teknologi modern sulit dilakukan. Selain itu letak pemukiman yang berdekatan menyebabkan adat tradisi menjadi kuat. Akibatnya, perubahan serta pembaharuan menjadi sulit dilakukan. (Smith dan Zoph, 1970 dalam Rahardjo, 1999).

Menurut saya alasan karena kualitas petani dan alasan ekonomi tidak cukup kuat untuk memvonis petani tidak mau mengadopsi teknologi pertanian. Faktor sosial budaya, kondisi psikologis petani dan peran agen perubahan juga menjadi alasan lain bagi petani untuk tidak mengadopsi teknologi. Ada kepercayaan yang sudah menyatu dengan petani untuk tidak mengadopsi teknologi baru. Pada kasus masyarakat Tenjo terdapat petani yang tidak mau mengadopsi teknologi pertanian karena takut ditertawakan oleh teman-temannya[1]. Alasan trauma karena pernah gagal di masa lampau juga dapat menjadi penyebab mengapa petani tidak mau mengadopsi inovasi baru.

Penelitian tentang adopsi teknologi dikalangan petani sudah pernah dilakukan oleh Soewardi (1978). Ia melakukan penelitian di dua desa, yaitu Desa Cianjur dan Desa Bekasi. Berdasarkan penelitiannya di Desa Cianjur ia menemukan bahwa warga lapisan atas umumnya bersikap responsif terhadap pembaharuan dan menerima unsur-unsur pembaharuan itu langsung dari penyuluh sebagai media. Penyebaran inovasi dari lapisan atas ke lapisan bawah terjadi melalui warga lapisan atas yang secara visual menyerupai orang-orang lapisan bawah. Selain itu, orang-orang yang menjadi penyebar inovasi dari lapisan atas ke lapisan bawah adalah tempat bertanya dan orang yang menghubungkan antara lapisan atas dan lapisan bawah.

Di Desa Bekasi petani yang mengadopsi unsur-unsur panca usahatani pada tanaman padi sebelum tahun 1969 adalah tokoh-tokoh lapisan atas. Sementara warga lapisan bawah belum mau melaksanakan. Orang-orang lapisan atas bergaul rapat dengan menteri pertanian dan mengikuti kursus. Pengetahuan yang didapatkan dari kursus belum menyebar luas dan hanya terbatas pada segelintir petani yang berada pada lapisan atas (Soewardi, 1978).

1.1.2 Adopsi dan Penolakan Teknologi Pertanian
Inovasi yang diberikan oleh penyuluh tidak selalu diterima oleh masyarakat. Ada yang saja yang menolak. Kebudayaan, kondisi masyarakat dan psikologis dapat menjadi penghambat diterimanya suatu inovasi. Seseorang mau menerima inovasi karena adanya bermacam-macam alasan yang saling menguatkan satu sama lain (Foster, 1973).

Seseorang yang lebih mudah menerima inovasi dan mau mengadopsi adalah orang yang kaya dan mempunyai alat untuk mendapat inovasi yang tidak dapat diperoleh oleh orang-orang disekitarnya. Seorang petani di India yang sangat disegani membeli benih yang mutunya baik karena tidak mau kehilangan muka (Foster, 1973).

Foster (1973) memberikan empat persyaratan agar suatu inovasi dapat diterima, yaitu: (1) Adanya bimbingan yang terus menerus dari seorang pengajar. Fungsi pengajar adalah memberikan nasehat dan memberitahu hal-hal yang harus dilakukan, (2) Orang yang mau belajar inovasi baru harus memiliki keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru, (3) Adanya manfaat yang dapat diperoleh bila inovasi itu diterapkan dan (4) Biaya yang dikeluarkan untuk melakukan inovasi harus sesuai dengan sumberdaya orang yang belajar.

Terdapat alasan yang rasional mengapa status sosial dan inovasi saling berkaitan. Keuntungan terbesar diperoleh oleh mereka yang pertama kali mengadopsi. Oleh karena itu para inovator mendapatkan keuntungan finansial dengan mengadopsi untuk pertama kali. Para pengadopsi yang pertama kali mengadopsi akan semakin kaya dan laggards akan semakin miskin dengan adanya proses adopsi (Rogers, 1995).
Sementara itu Susanto (1983) menyatakan bahwa petani tidak akan diuntungkan dengan adanya proses difusi teknologi. Menurutnya adanya difusi teknologi tidak akan mensejahterakan petani walaupun proses penyampaian informasi diubah dari top down menjadi bottom up.[2]

1.1.3 Perkembangan Stratifikasi Sosial Masyarakat Desa
Stratifikasi sosial, pelapisan sosial atau struktur sosial vertikal adalah penggambaran kelompok-kelompok sosial dalam susunan yang hierakhis dan berjenjang. Stratifikasi terjadi karena manusia terikat dengan nilai. Hal-hal yang mengandung niali berkaitan dengan harta/kekayaan, jenis mata pencaharian, pengetahuan, keturunan, keagamaan, unsur biologis (usia dan jenis kelamin). Bagi masyarakat desa yang dipandang bernilai adalah lahan pertanian. Seberapa besar pemilikan atau penguasaan seseorang terhadap lahan pertanian akan menentukan seberapa tinggi kedudukannya di masyarakat (Rahardjo, 1999).

Semakin rumit dan maju teknologi suatu masyarakat, semakin kompleks pula sistem lapisan masyarakat. (Inkeles, 1965 dalam Soekanto, 1990). Stratifikasi sosial masyarakat desa berkembang menurut teknologi yang digunakan dalam bertani. Pada tingkat food gathering economic (berburu, memancing dan meramu) sampai era pertanian tradisional, stratifikasi didasarkan pada kekuatan fisik dan pengalaman. Laki-laki kedudukannya lebih tinggi daripada perempuan karena peranan laki-laki lebih besar dalam hal memberi kebutuhan bahan buruan. Keterampilan dan kekuatan fisik lak-laki yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan perburuan dominan dimiliki oleh laki-laki (Rahardjo, 1999).

Selain faktor fisik, jumlah laki-laki yang lebih sedikit di desa karena mereka melakukan mobilisasi ke kota menyebabkan laki-laki menempati kedudukan sosial yang tinggi. Faktor usia juga menjadi dasar stratifkasi di desa karena pengalaman mereka dalam bertani lebih banyak daripada mereka yang masih muda sehingga menjadi kaum tua menjadi kelompok yang terpandang di desa. Ketika sistem pertanian sudah menjadi modern dan kompleks akses pengetahuan tidak hanya diperoleh dari orang tua maka kedudukan sosial orang tua akan menurun seiring dengan menurunnya peranan penting mereka di masyarakat (Rahardjo, 1999).

Adanya pembangunan menyebabkan perubahan pada sistem pelapisan masyarakat desa. Desa dengan pertanian tanaman keras (hortikultura) dan dengan pola pengelolaan perkebunan rakyat, perunahan yang mengarah kepad a komersialisasi akan menguntungkan masyrakat petani terutama bila tanaman tersebut menjadi komoditas ekspor. Namun, buruh perkebunan dari perkebunan modern tidak memiliki akses untuk keuntungan semacam itu (Rahardjo, 1999).

Lain halnya dengan desa pertanian pangan (sawah). Dengan masuknya komersialisai pelapisan sosial tidak berdasarkan luas pemilikan dan penguasaan lahan pertanian tetapi orang yang kaya, orang yang bekerja di sektor formal, dan non pertanian muncul sebagai elit menggeser dan menggantikan kedudukan petani berlahan luas (Rahardjo, 1999).

Sistem lapisan dapat dianalisis dalam ruang lingkup sebagai berikut :
(1) distribusi hak-hak istimewa yang objektif (penghasilan, kekayaan, keselamatan), (2) sistem pertanggaan yang diciptakan masyarakat (prestise dan penghargaan), (3) kriteria sistem pertanggaan, (4) lambang kedudukan, (5) mudah sukarnya bertukar kedudukan, (5) solidaritas diantara individu-individu atau kelompok yang menduduki kedudukan yang sama dalam sistem soisal masyarakat. (Soekanto, 1990)

1.1.4 Proyek Demonstrasi Pengembangan Pertanian Terpadu di Lahan Kering
Proyek pengembangan pertanian terpadu di lahan kering adalah hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Korea. Pemerintah Korea diwakili oleh Korea International Cooperation Agency (KOICA) sedangkan Pemerintah Indonesia diwakili oleh Direktorat Umum Pangan. Kerja sama ini berlangsung sejak tahun 2002 sampai dengan tahun 2004. Bentuk kerja sama yang dilakukan antara lain KOICA menyediakan mesin-mesin pertanian, peralatan pertanian, materi pendukung di lapang dan gudang. Biaya yang dikeluarkan oleh KOICA mencapai 700.000 $ atau 5,7 milyar. Pemerintah Indonesia sendiri khususnya Pemerintah Kabupaten Bogor mengeluarkan dana untuk pendukung berupa kantor dan kendaraan operasional.[3]

Ada dua lokasi proyek demonstrasi, yaitu Samarinda di Kalimatan Timur dan Tenjo di Bogor. Untuk kasus ini proyek demonstrasi yang akan dibicarakan adalah proyek demonstrasi yang berada di Kecamatan Tenjo. Tenjo dipilih menjadi salah satu tempat proyek demonstrasi karena banyak terdapat lahan kering dan letaknya yang strategis di pinggir jalan. Selain itu, Tenjo dekat dengan Jakarta dan Tanjung Priok. Pusat penelitian pertanian juga banyak terdapat di Bogor. Kemudahan dalam memasok mesin-mesin pertanian dari Korea ke Bogor melalui Jakarta juga menjadi bahan pertimbangan lokasi proyek.[4]

Proyek demonstrasi pertanian yang menggunakan lahan seluas 6 Ha ini memiliki beberapa tujuan, diantaranya adalah sebagai berikut : (1) membangun potensi lahan kering untuk meningkatkan produksi tanaman pangan dan sayuran dengan menerapkan teknologi pertanian yang modern, (2) mempromosikan produksi pertanian dan meningkatkan pendapatan petani dengan membangun pertanian terpadu lahan kering, (3) mentransfer teknologi modern, keterampilan dan pengetahuan, (4) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para pekerja penyuluh lapangan dan para petani dalam pembangunan lahan kering melalui sistem pertanian yang terintegrasi dan (5) memperkenalkan mekanisasi pertanian lahan kering kepada para petani di Indonesia (Mulyana, 2001)

Untuk mencapai tujuan proyek, maka beberapa ahli pertanian dan ahli mesin pertanian didatangkan dari Korea. Mereka adalah Park Sun Yong (ahli mesin pertanian), Kim Byung Kon (ahli teknisi dari Perusahaan Mesin Pertanian KUKJE) dan Kim Tak seorang ahli yang memberikan konsultasi teknik. Pada tahun 2003 sampai tahun 2004 beberapa pelatihan kursus dilaksanakan di Indonesia dan Korea untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, transfer teknologi, pengetahuan dan keterampilan.

Selain mendatangkan ahli dari luar negeri, kelompok-kelompok petani juga dibentuk. Kelompok petani adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua atau lebih petani karena adanya persamaan tujuan dan kebutuhan. Kelompok ini sifatnya informal dan dibentuk berdasarkan persetujuan bersama. Selain mentransfer teknologi, kelompok petani juga diharapkan dapat mempererat kerja sama antara petani dan kelompok petani lainnya (Mulyana, 2004)

Untuk masuk ke dalam suatu kelompok tani maka seorang petani harus mempunyai karakter tertentu. Ada beberapa karakteristik yang harus dipenuhi, diantaranya adalah (1) memiliki persamaan karakteristik, (2) memiliki persamaan persepsi, (3) tergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan, (4) berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan, (5) mempunyai kemampuan, (6) taat pada peraturan, (7) memiliki peranan, aktivitas dan tanggung jawab. (Mulyana, 2004).
Mereka yang tergabung ke dalam kelompok tani biasanya adalah para petani yang memiliki jabatan penting di desa, tokoh desa dan petani pemilik lahan. Di dalam kelompok petani sendiri terdapat level. Ada tiga level yang terdapat dida lam kelompok petani, yaitu petani pemula, petani maju, petani antara pemula dan maju, dan petani professional. Di Tenjo, ada empat kelompok yang termasuk kategori petani pemula dan satu kelompok yang sudah masuk kategori petani professional.(Kantor Penyuluhan Tenjo, 2004).

Proyek demonstrasi kerja sama Indonesia-Korea sudah berakhir pada bulan Desember 2004. Namun, usaha untuk tetap meneruskan program pertanian terpadu di lahan kering terus dilakukan. Usaha yang sudah dilakukan oleh pihak pemerintah Bogor adalah dengan mengembangkan dan membangun kelompok petani melalui pendidikan secara berkelanjutan dan intensif; sosialisasi komoditas tanaman pangan dengan mempertimbangkan aspek harga, pendapatan, iklim dan teknologi; pertemuan antara petani dan stakeholder; membuat Tenjo sebagai sarana demonstrasi bisnis pertanian; manajemen pertanian ideal; forum komunikasi; pelayanan kebutuhan benih dan fasilitas lainnya; serta pusat belajar dan inovasi di rumah hijau (Mulyana, 2004).

Target utama dari proyek demonstrasi pertanian lahan kering adalah para petani sebagai subjek dari aktivitas bisnis pertanian yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani. Selain peningkatan pendapatan, proyek ini juga diharapkan dapat mendekatkan petani dengan stakeholder lain yang tergabung dalam proyek seperti peneliti, pengusaha dan pemerintah. (Mulyana, 2004).

Proyek demonstrasi yang dilakukan hanya melibatkan petani dari kalangan tertentu, yaitu petani yang memiliki peran penting di desa sebagai tokoh formal dan informal maupun petani yang memiliki lahan. Mereka adalah para petani yang mendapatkan pelatihan langsung dari supervisor (pelatih dari Korea). Sementara itu, petani yang tidak termasuk kategori tadi hanya menerima informasi dari para petani yang mengikuti pelatihan. Namun demikian petani yang tidak memperoleh pelatihan langsung dari supervisor diperbolehkan untuk ikut langsung ke demplot untuk melihat bagaimana mekanisme kerja dari peralatan mesin pertanian.

Selain ada pembedaan dalam hal mengakses informasi antara petani di berbagai lapisan. Pembedaan ini juga berlaku pada petani perempuan. Petani perempuan di Tenjo tidak turut dilibatkan dalam proyek demonstrasi. Hal ini dilakukan karena petani perempuan tidak memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan untuk menjadi kelompok petani yang akan dilatih.

1.2 Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini yang menjadi permasalahan adalah bagaimana proses perubahan stratifikasi sosial terjadi akibat adanya intervensi teknologi dari Korea terhadap masyarakat di Desa Singabraja, kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Teknologi yang ditawarkan berasal dari luar Indonesia. Ada nilai-nilai baru yang masuk ke dalam sistem pertanian masyrakat Singabraja.
Terdapat perbedaan dalam mengakses inovasi baru antara mereka yang berada pada lapisan atas dan lapisan bawah. Mereka yang berada pada lapisan atas mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk mengakses inovasi baru, yaitu kesempatan untuk mendapatkan pelatihan dan informasi langsung dari ahli pertanian. Sementara mereka yang berada pada lapisan bawah tidak mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan informasi langsung dari ahli pertanian.
Adanya pengetahuan baru yang didapat dalam hal bertani diharapkan dapat meningkatkan produktivitas komoditi pertanian masyarakat Singabraja. Adanya teknologi baru yang hanya bisa diakses oleh petani tertentu menyebabkan adanya pembedaan pengetahuan dalam hal bertani.
Dari latar belakang yang sudah dikemukakan penulis terlihat bahwa ada hubungan antara teknologi dengan perkembangan stratifikasi masyarakat. Dari data yang sudah didapatkan terlihat bahwa teknologi berpengaruh terhadap petani hortikultura dan petani sawah. Namun, belum diketahui bagaimana pengaruh teknologi terhadap petani di lahan kering. Hal ini mendorong penulis untuk meneliti lebih lanjut dalam hal berikut :
1. Bagaimana respon petani lapisan atas, lapisan menengah dan lapisan bawah terhadap teknologi yang ditawarkan petani terkait dengan adanya perbedaan perlakuan dalam penerimaan informasi ?
2. Bagaimana pengaruh teknologi terhadap pola stratifikasi sosial petani, apakah mengalami perubahan ?
3. Apakah pola stratifikasi yang terjadi setelah adanya intervensi teknologi dari Korea memberikan kemungkinan bagi petani lapisan bawah dan lapisan menengah untuk melakukan mobilisasi sosial vertikal naik?

1.3 Tujuan Penelitian
Mengetahui bagaimana respon petani lapisan atas dan lapisan bawah terhadap inovasi.
Mengetahui bagaimana pengaruh teknologi terhadap pola stratifiaksi petani
Mengetahui bagaimana kemungkinan mobilisasi sosial yang dapat dilakukan oleh petani lapisan menengah dan lapisan bawah
1.4 Kegunaan Penelitian
Studi ini diharapkan berguna untuk menambah pengetahuan baru khususnya untuk studi sosiologi pedesaan dalam tema perubahan sosial. Selain itu, studi ini juga dapat menambah referensi bagi para inovator teknologi pertanian, pemerintah sebagai pengambil kebijakan, dan para petani sebagai penerima inovasi.

1.4 Hipotesis Pengarah
Petani lapisan atas lebih responsif terhadap inovasi dari pada petani lapisan bawah, karena : (1) petani lapisan atas mendapat bimbingan langsung dari ahli mesin pertanian, ahli teknisi dan konsultasi teknik asal Korea, (2) memiliki keinginan untuk mencoba peralatan dan teknik-teknik agronomi yang modern, (3) Ada manfaat yang diperoleh dari inovasi berupa penambahan pengetahuan dan keterampilan bertani, (4) Cara berfikir masyarakat petani lapisan atas sudah rasional, yaitu mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas, (5) Memiliki kemampuan sumberdaya untuk melakukan inovasi, meliputi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia .

Pola stratifikasi petani berubah dalam hal dasar stratifikasi dan komposisi. (1) Struktur sosial yang semula hanya berdasarkan pemilikan lahan akan bertambah menjadi struktur sosial baru berdasarkan tingkat penguasaan teknologi dalam hal akses, kontrol, pengetahuan dan keterampilan teknologi (2) lambang kedudukan akan berubah berdasarkan peralatan apa saja yang digunakan petani dalam bertani, (3) Mereka yang bekerja sebagai petani akan semakin banyak jumlahnya karena pekerja sektor informal dan non pertanian mulai beralih ke sektor pertanian.

Kemungkinan mobilisasi sosial yang dilakukan oleh petani lapisan menengah dan petani lapisan bawah akan semakin besar. Mobilisasi sosial yang dilakukan oleh petani lapisan menengah adalah mobilisasi vertikal naik sedangkan mobilisasi yang dilakukan oleh petani lapisan bawah adalah mobilisasi horisontal.

BAB II
METODOLOGI PENELITIAN

2.1 Metode Kualitatif
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Ada alasan yang membuat penelitian ini harus menggunakan studi kasus, yaitu ; (1) Masyarakat petani yang terkena intervensi adalah para petani lahan kering. Selama ini mereka beranggapan bahwa bertani hanya dapat dilakukan di lahan yang kaya akan air, (2) Masyarakat yang semula tidak tertarik dengan pertanian kini mulai tertarik dengan pertanian sehingga masyarakat yang semula melakukan migrasi untuk mencukupi kehidupannya kini mulai tertarik untuk menjadi seorang petani, (3) Karakteristik petani yang mengikuti program pelatihan adalah para tokoh penting baik di organisasi formal maupun organisasi informal. Hal inilah yang akan menjadi responden pada penelitian.

2.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Kegiatan penelitian akan dilaksanakan di Desa Singabraja, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan dengan pertimbangan sebagai berikut : (1) Desa Singabraja adalah salah satu desa yang mendapat intervensi teknologi dari luar, (2) Peneliti dekat dengan salah satu informan sehingga memudahkan peneliti untuk mencari data yang diharapakan dapat menjawab rumusan dan tujuan penelitian, (3) Kegiatan intervensi ini masih terus berlangsung walaupun proyek sudah berakhir, (4) Lokasi proyek lebih dekat dengan domisili peneliti dibandingkan dengan lokasi proyek yang satunya yaitu di Kalimantan Timur.
Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan bulan Agustus. Kegiatan penelitian akan dilaksanakan pada saat awal musim tanam, perawatan. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan pada saat musim tanam petani yang menerima teknologi baru akan menerapkan apa yang sudah didapatkan dari hasil pelatihan tentang cara menanam yang baik,bagaimana cara menyiram tanaman dengan teknik irigasi tetes, bagaimana menggunakan traktor.

2.3 Teknik Pengumpulan Data
Untuk menentukan siapa saja yang termasuk subjek penelitian dan informan maka kegiatan ini dilakukan dengan teknik snow-ball .Mula-mula nama dari tiap informan dan responden yang memenuhi kriteria didapatkan dengan cara menanyakan langsung kepada informan yang sudah pernah ditemui pertama kali. Kemudian peneliti memeriksa silang informasi tentang informan dan responden yang sudah didapatkan dari orang pertama dengan responden dan informan yang bersangkutan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam dengan informan yang pernah menjadi staf pelaksana kegiatan proyek, petani lapisan atas, lapisan menengah dan lapisan bawah. (Lihat lampiran 3)
Dari beberapa responden dan informan yang ditemui maka akan diperoleh beberapa data, yaitu data primer dari (1)subyek penelitian (para petani) yang memberi keterangan tentang dirinya sendiri tentang bagaimana respon petani terhadap teknologi dan manfaat yang diperoleh dari pemanfaatan teknologi. Selain itu informasi mengenai struktur sosial petani dan mobilisasi sosial juga dapat diperoleh, (2) Informan (para staf pelaksana di lapang, tokoh formal para pejabat desa) yang memberi keterangan tentang bagaimana respon para petani.
Data sekunder diperoleh melalui studi dokumentasi hasil laporan pertanggungjawaban para staf proyek terhadap kondisi dilapang, studi literatur yang berkenaan dengan hasil penelitian tentang difusi inovasi dan perubahan sosial, kumpulan artikel yang memuat tentang kerjasama Korea-Indonesia dalam hal pertanian terpadu. Sumber data lain yang dapat digunakan adalah data dokumentasi mengenai jumlah petani dari kantor penyuluhan, potret dari kegiatan pelatihan yang sudah pernah dilakukan petani.

2.4 Teknik Analisa Data
Pada saat proses pengumpulan data dilakukan maka analisa data juga dilakukan. Analisa data kualitatif dilakukan dengan cara mengklasifikasikan data sesuai dengan topik permasalahan. Data yang sudah didapatkan ditata, dikategorikan, kemudian dipilah, data-data yang setopik digabungkan. Setelah diklasifikasikan kemudian dicari hubungan antara kategori yang satu dengan kategori yang lain dengan cara menggunakan alur atau matrik. Setelah itu dilakukan analisis, bukti-bukti yang mendukung topik dimasukkan dan dicari kesimpulan. Kesimpulan inilah yang akan menjadi jawaban atas pertanyaan penelitian.
Data yang sudah direduksi akan disajikan dalam bentuk teks naratif, matriks yang menghubungkan antara respon petani lapisan atas, lapisan mennegah, lapisan bawah terhadap inovasi, dan gambaran kemungkinan mobilitas sosial yang dilakukan petani lapisan menengah dan lapisan bawah dalam pendidikan formal, penguasaan lahan, pendapatan, pengetahuan dalam hal teknologi pertanian ,hak distributif istimewa yang diperoleh petani dan sistem penghargaan yang diperoleh petani.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. “Rp 5,7 Milyar untuk Ubah Lahan Kering jadi Lahan Subur Korea Hibahkan Dana untuk Kecamatan Tenjo” . www pikiran rakyat.com/cetak edisi 2 April 2005. Diakses tanggal 4 Maret 2005.

Anonim. Peta Kabupaten Bogor. www.kabupaten_bogor.go.id
Foster, Gorge M. 1973. Traditional Society and Technological Change. Second Edition. New York : Harper and Row Publisher.

Mulyana, Yan. 2004. “Final Report: Farmer Cooperation Program trough Farm Management Partnership Approach System as Follow up Effort Integrated Upland Farming Development on Tenjo, Bogor Regency, West Java”. In Cooperation with Korea International Cooperation Agency (KOICA). Not Published

Rahardjo. 1999. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. Yogyakarta :Gajah mada university Press,

Rogers, Everett M.1995. Diffusion of Innovation. The Free Press;New York.

Soetrisno, Loekman. 1999. Pertanian pada Abad ke 21. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Soewardi. 1978. Kumpulan Bacaan Sosiologi Pedesaan: “Penyebaran Inovasi dari Lapisan Atas ke lapisan Bawah” :. Lembaga Penelitian Sosiologi Pedesaan. Institut Pertanian Bogor.

Sofiah, Syarifah. 2004. “Final Report: Study on The Cooperation System of The Farm, Research Center, University and Administration of Local Local Government of Bogor for The Continuation of The Demonstarion Farm”. In Cooperation with Korea International Cooperation Agency (KOICA). Not Published.

Susanto, Phil Astrid S. 1983. Dari Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Binacipta

Tjondronegor,SoedionoM.P. 1999. Keping-Keping Sosiologi dari Pedesaan.:”Revolusi Hijau dan Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa” Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.































[1] Pernyataan ini saya kutip dari Tata Haidar Riza,SP mantan staf koordinator lapang di Tenjo yang bertanggungjawab pada proyek demonstrasi lahan kering selama kurun waktu 2002 s.d. 2004
[2] Top down yang dimaksud adalah teori trickle down effect
[3] Pikiran Rakyat, “Korea Hibahkan Dana 5,7 Milyar”, Edisi 2 April 2005
[4] Pernyatan ini saya kutip dari Tata Haidar Riza, SP

5 Comments:

At 10:08 PM, Blogger lisafisher58373813 said...

i thought your blog was cool and i think you may like this cool Website. now just Click Here

 
At 4:25 PM, Blogger lennymorgan26515957 said...

I really enjoyed your blog. This is a cool Website Check it out now by Clicking Here . I know that you will find this WebSite Very Interesting Every one wants a Free LapTop Computer!

 
At 8:09 PM, Blogger davidfrie87012058 said...

Make no mistake: Our mission at Tip Top Equities is to sift through the thousands of underperforming companies out there to find the golden needle in the haystack. A stock worthy of your investment. A stock with the potential for big returns. More often than not, the stocks we profile show a significant increase in stock price, sometimes in days, not months or years. We have come across what we feel is one of those rare deals that the public has not heard about yet. Read on to find out more.

Nano Superlattice Technology Inc. (OTCBB Symbol: NSLT) is a nanotechnology company engaged in the coating of tools and components with nano structured PVD coatings for high-tech industries.

Nano utilizes Arc Bond Sputtering and Superlattice technology to apply multi-layers of super-hard elemental coatings on an array of precision products to achieve a variety of physical properties. The application of the coating on industrial products is designed to change their physical properties, improving a product's durability, resistance, chemical and physical characteristics as well as performance. Nano's super-hard alloy coating materials were especially developed for printed circuit board drills in response to special market requirements

The cutting of circuit boards causes severe wear on the cutting edge of drills and routers. With the increased miniaturization of personal electronics devices the dimensions of holes and cut aways are currently less than 0.2 mm. Nano coats tools with an ultra thin coating (only a few nanometers in thickness) of nitrides which can have a hardness of up to half that of diamond. This has proven to increase tool life by almost ten times. Nano plans to continue research and development into these techniques due to the vast application range for this type of nanotechnology

We believe that Nano is a company on the move. With today�s steady move towards miniaturization we feel that Nano is a company with the right product at the right time. It is our opinion that an investment in Nano will produce great returns for our readers.

Online Stock trading, in the New York Stock Exchange, and Toronto Stock Exchange, or any other stock market requires many hours of stock research. Always consult a stock broker for stock prices of penny stocks, and always seek proper free stock advice, as well as read a stock chart. This is not encouragement to buy stock, but merely a possible hot stock pick. Get a live stock market quote, before making a stock investment or participating in the stock market game or buying or selling a stock option.

 
At 3:05 AM, Blogger waltererickson21673789 said...

Hey Meet Me Today I'm available in your area tonite GO HERE NOW!

 
At 12:59 PM, Blogger louislane11285710 said...

Get any Desired College Degree, In less then 2 weeks.

Call this number now 24 hours a day 7 days a week (413) 208-3069

Get these Degrees NOW!!!

"BA", "BSc", "MA", "MSc", "MBA", "PHD",

Get everything within 2 weeks.
100% verifiable, this is a real deal

Act now you owe it to your future.

(413) 208-3069 call now 24 hours a day, 7 days a week.

 

Post a Comment

<< Home